filosofi teras

Posted by: Administrator | 13/08/2022 | Kategori: E-Book | 110 kali dibaca | Rating: 214

Respon pertama saat disodorkan buku Filosofi Teras oleh teman saya, saya langsung menolak. “Ini pasti bacaan yang berat”, “Oh My, tentang filsafat, no no”, “Tulisannya kecil-kecil gini, lay out rata kiri doangbikin bosan”, “Baca sehalaman saja langsung tutup buku nih”, lebih kurang begitulah yang ada dibenak saya saat itu. Mendengar kata filsafat saja membuat bulu kuduk meremang (lebay memang). Filsafat dipikiran saya itu sesuatu yang rumit, sesuatu yang membutuhkan usaha dan konsentrasi ekstra untuk memahaminya, bahkan harus “gila” terlebih dahulu baru mudheng. Namun, teman saya dengan nada meyakinkan mengatakan kalau buku ini perlu dibaca buat kami yang sudah berusia 21+. Saya pikir teman saya hanya hiperbola. Dengan berbagai bujuk rayu, akhirnya saya membawa buku tersebut. Seminggu kemudian, buku itu tetap teronggok di laci buku. Mood sedang anjlok. Ketika sudah sedikit membaik, saya mulai membacanya. Di luar perkiraan, cukup tiga hari waktu yang saya butuhkan untuk mengkhatamkan dan meresapi ajaran Filosofi Teras. Saya merasa telah menemukan obat atas persoalan yang sedang saya hadapi.

Selama membaca kalimat demi kalimat, persepsi awal saya mengenai buku ini sedikit demi sedikit luntur. Awalnya saya pikir jika buku ini berat, nyatanya tidak. Ajaran yang ada di dalam Filosofi Teras ini sangat real dan cocok untuk berbagai kalangan. Tidak perlu menjadi filsuf atau sufi untuk dapat memahaminya. Ajaran Filosofi Teras dapat dipelajari dan dilakukan oleh orang awam sekalipun. Mulanya saya juga berpikir bahwa buku ini akan membosankan, ternyata saya menikmatinya hingga tandas. Tanpa saya sadari, kepala saya sampai dibuat manggut-mangut dan membernarkan ajaran Filosofi Teras di dalam hati. Enjoy, merasa pikiran lebih terbuka, dan hati merasa damai, itu yang saya rasakan setelah membaca buku ini. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya hendak berbagi kepada Sobat Senja Bahasa mengenai gambaran besar tulisan Henry Manampiring yang populer di tahun 2019 ini.

Apakah kamu sering merasa khawatir akan sesuatu yang belum terjadi? Mudah baper? Sedikit-sedikit tersinggung? Mudah marah dan berujung curhat di media sosial? Sering julid di akun selebriti?

Alasan keberadaan buku ini tidak jauh dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Pada tahun 2017, penulis buku Filsafat Teras didiagnosis oleh seorang psikiater menderita Major Depressive Disoder. Saat berhadapan pada sebuah keadaan, ia selalu negative thinking dan dipenuhi kecemasan. Vonis yang didapat pemilik akun twitter @newsplatter ini tentu sangat mengejutkannnya. Bagaimana tidak, di masyarakat terdapat stigma bahwa seseorang yang menderita psikis berarti kondisi jiwanya terganggu alias gila. Untuk berjuang dari sakitnya, ia menjalani terapi obat-obatan sehingga membuat mood-nya membaik. Kemudian muncul pertanyaan, apakah ia selamanya akan bergantung pada obat?

Selama masa pengobatan berlangsung, ia menemukan buku How to Be a Stoic karya Massimo Pigliucci. Buku tersebut lebih kurang mengenai bagaimana menerapkan Filsafat Stoa atau Stoisisme dalam hidup. Sesudah membaca buku Pigliucci, pikirannya terbuka dan menemukan cara ampuh “terapi tanpa obat”. Ia mempraktikkan ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Singkat cerita, ia menjadi pribadi yang lebih tenang, damai, dan dapat mengendalikan emosi negatif. Atas hasil yang diperolehnya, Henry Manampiring memutuskan untuk berbagi tentang Stoisisme kepada orang lain. Pada tahun 2019, ia menulis buku Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini. Oleh karena sebutan Stoisisme terdengar asing, maka pria yang akrab disapa Om Piring ini meng-Indonesia-kannya menjadi Filosofi Teras.

Filosofi Teras lahir di sebuah teras yang berpilar dihiasi lukisan, semacam alun-alun di Athena sehingga nama ajaran yang dipelopori oleh Zeno ini disebut Filosofi Stoa atau Filosofi Teras. Filosofi ini sudah ada sejak masa Yunani Kuno sekitar 300 tahun sebelum Masehi atau 2.300 tahun yang lalu. Jauh dari filsafat yang terkesan sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

“Stoisime tidak dimaksudkan untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat eksternal, seperti sukses jodoh, disayang bos dan istri (istri sendiri, bukan istri si bos!), mendapatkan ide bisnis start-up yang gampang memperoleh investasi jutaan dolar, atau anak-anak yang jenius. Ini yang membedakannya dari banyak ajaran self-help popular masa kini.” (hlm 27)

“Hidup bebas dari emosi negatif (sedih, marah, cemburu, curiga, baper, dan lain-lain), mendapatkan hidup yang tenteram (tranquil). Ketenteraman ini hanya bisa diperoleh dengan memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.” (hlm 27)

Buku Filosofi Teras ini dibuka dengan riset sederhana mengenai Survei Khawatir Nasional yang semakin memperkuat persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. Pertanyaan yang dilemparkan Henry Manampiring dalam surveinya sederhana tetapi menarik dan menggelitik. Di antaranya mengenai tingkat kekhawatiran hidup seseorang secara keseluruhan, tingkat kekhawatiran tentang studi lanjutan, kekhawatiran akan relationship, kekhawatiran terhadap status jomblo/sendiri, kekhawatiran mengenai pekerjaan/bisnis, kekhawatiran atas kondisi keuangam pribadi, kekhawatiran sebagai orang tua, kekhawatiran menyangkut kondisi sosial politik di Indonesia, dan sebagainya. Hasil dari survei tersebut cukup mencengangkan dan sukses memprovokasi saya untuk membaca tulisannya pada bab selanjutnya.

Buku Filosofi Teras berisi 12 bab yang unik dan menarik. Berikut beberapa ajaran Filosofi Teras yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, hidup selaras dengan Alam. Dengan arti lain, kita harus menggunakan nalar, akal sehat karena nalar atau rasio adalah yang membedakan kita dari binatang.

“Tidak ada peristiwa yang betul-betul “kebetulan”. Atau, dengan kata lain, sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu dan sedang terjadi pada detik ini juga adalah hal yang tak terhindarkan karena merupakan mata rantai dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.” (hlm 41)

Kedua, hidup mengasah empat kebajikan utama (vitrues), yakni kebijaksanaan, keadilan, menahan diri, keberanian.

a. kebijaksanaan (wisdom): kemampuan mengambil keputusan terbaik di dalam situasi apa pun.

b. keadilan (justice): memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur.

c. keberanian (courage): keberanian berbuat yang benar, berani berpegang pada prinsip yang benar.

d. menahan diri (temperance): disiplin, kesederhanaan, kepantasan, dan control diri (atas nafsu dan emosi). (hlm 27-28)

Ketiga, dikotomi kendali (dichotomy of control). Prinsip ini paling utama di Filosofi Teras.

“Some things are up to us, some things are not up to us” -Epictetus (Enchiridion) (hlm 46)

“Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari “thing we can control”, hal-hal yang di bawah kendali kita. Dengan kata lain, kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari dalam. Sebaliknya, kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian sejati kepada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Bagi para filsuf Stoa, menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti kelakuan orang lain, opini orang lain, status dan popularitas (yang ditentukan orang lain), kekayaan, dan lainnya adalah tidak rasional.” (hlm 49)

Dalam perjalanannya, muncul persoalan ketika prestasi sekolah, prestasi pekerjaan, prestasi perlombaan, sampai relationship ke dalam kategori yang sama (tidak bisa dikendalikan). Hal itu menjadikan seseorang tidak termotivasi untuk berupaya dan bekerja keras. William Irvine di dalam bukunya A Guide To Good Life: The Ancient Art of Stoic Joy menawarkan Trikotomi Kendali sebagai revisi. Ia memasukkan kasus tersebut ke dalam hal-hal yang bisa SEBAGIAN kita kendalikan. Kategori yang ketiga ini dapat di terapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan memisahkan tujuan di dalam diri (internal goal) dari hasil eksternal (outcome-nya).

“Dalam contoh sidang skripsi, internal goal adalah belajar yang rajin, benar-benar memahami materi skripsi, latihan presentasi berulang-ulang, sampai presentasi Power Point yang dibuat cantik dan professional. Sepanjang kita sudah berupaya maksimal di hal-hal ini, kita sudah melakukan hal yang bisa dilakukan di dalam kendali kita. Nilai dari skripsi adalah outcome (hasil) yang berada di luar kendali. Jadi, menjadi stres dan khawatir mengenai hasilnya adalah hal yang irasional.” (hlm 64)

“Jika kita telah mengerahkan upaya yang sebaik-baiknya di hal-hal yang bisa kita kendalikan, maka itu sudah cukup.” (hlm 65)

Keempat, dikotomi kendali tidak sama dengan pasrah pada keadaan. Oleh karena situasi eksternal adalah sesuatu di luar kendali, maka seolah-olah kita hanya bisa megubah persepsi saja, dan tidak perlu berupaya, apalagi bekerja keras. Anggapan ini tidak benar. Dalam hal itu William Irvine sudah memberikan solusinya dalam bentuk ‘Trikotomi Kendali’ di atas.

“Perhatikan konsistensi prinsip “hidup selaras alam”. Rajin bekerja dan berkarya tidak dilihat sebagai sekedar jerih payah untuk bertahan hidup atau memupuk kekayaan, tetapi sudah bagian jati diri manusia. Di dalam Stoisisme tidak ada ancaman dosa untuk kemalasan, hanya kita diingatkan bahwa dengan malas bekerja, kita sudah mengingkari Alam dan nature kita sebagai manusia (bahkan kita dianggap lebih buruk dari binatang-binatang yang rajin!). Kemudian, tanpa keselarasan dengan Alam, kita akan semakin sulit meraih kebahagiaan dan ketenteraman batin yang sejati. Dengan kata lain, kemalasanlah yang akan membawa kesusahan dan bukanlah jerih payah itu sendiri. Sesungguhnya, kerajinan, kerja keras, dan berkarya sudah menjadi panggilan kita.” (hlm 85)

Kelima, dapat membedakan antara peristiwa objektif/fakta, dan opini/value judgment kita tambahkan kemudian. Opini/interpretasi/value judgment ini yang sering menjadi akar emosi negatif.

Kehadiran media sosial mendapat efek pendapat orang lain justru semakin tidak terbendung. Apa pun yang kita post di media sosial bisa dinilai, disetujui, atau dicela oleh ratusan, bahkan ribuan orang di internet. Setiap kita mem-post sesuatu di media sosial kita terkadang berharap mendapatkan banyak likes, views, dan menambah jumlah follower.

“Saat kita terus-menerus ingin menyenangkan orang lain, ingin memenuhi ekspektasi orang lain, mendapatkan approval orang lain, meraih sebanyak-banyaknya likes dan views, tanpa sadar kita diperbudak oleh pendapat orang lain. Dari pilihan baju, sepatu sekolah, pilihan karier, pilihan politik, pilihan calon suami/istri—jika semuanya dilakukan tidak dengan kebebasan, melainkan untuk menuruti pendapat orang lain, apa bedanya kita dengan budak?” (hlm 73)

“Ingatlah bahwa menggantungkan kebahagiaan kepada hal yang di luar kendali sesungguhnya sangat rapuh dan sangat berisiko berujung pada kekecewaan. Jika pendapat orang lain di luar kendali kita, artinya, pertama, tidak akan ada habisnya untuk diikuti, dan kedua, bisa berubah semau si pemilik pendapat.” (hlm 75)

If you live according to what others think, you will never be rich.”—Seneca (Letters) (hlm 89)

Ungkapan tersebut sangat relevan dengan fenomena saat ini. Tidak sedikit orang hidup terus mengikuti opini orang lain. Dengan kata lain, kita tidak ada habisnya mengikuti tren. Tren sendiri artinya sesuatu yang sedang populer di antara banyak orang di suatu periode. Mengikuti tren artinya mengikuti opini orang banyak. Kalau kita terus-menerus harus mengikuti tren yang ada dengan membeli barang dan makanan yang sedang populer, kapan kita menabung, berinvestasi, dan menjadi kaya?

Keenam, mengendalikan interpretasi dan persepsi. Semua kesusahan yang kita rasakan datang dari pikiran kita sendiri dan bukan dari peristiwa/orang lain maka kita bisa mengendalikan pikiran kita.

Segala emosi yang mengganggu kita sebenarnya berasal dari cara penilaian yang salah. Cara berpikir tertentu menjadi penyebab munculnya keliru atas kejadian dalam hidup menyebabkan kita stres, gelisah, marah-marah tanpa alasan yang jelas, bahkan hingga depresi.

 “It is not thing that trouble us, but our judgment about things.”—Epictetus (Enchiridion) (hlm 94)

“Dalam Filosofi Teras, ada pemisahan antara apa yang bisa ditangkap oleh indra kita (impression), dan interpretasi atau makna atas apa yang kita lihat dan dengar tersebut (representation). Kita sering kali gagal memisahkan keduanya. Pada umumnya, kita serta merta memberikan interpretasi/penilaian (value judgment) dan pemaknaan dari sebuah peristiwa yang dialami. Peristiwa itu sendiri hampir selalu netral, tetapi kemudian menjadi “positif” atau “negatif” karena interpretasi dan makna yang kita berikan.” (hlm 95)

“Jika kamu merasa susah karena hal eksternal, maka perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/persepsimu sendiri. Dan kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapan pun  juga.” —Mercus (Meditions) (hlm 98)

Kita harus menyadari semua rasa susah, khawatir, cemas, iri hati, dan lain-lain datangnya dari pikiran kita sendiri. Kabar baiknya, kita sebenarnya MAMPU mengubah pikiran/persepsi kita (tanpa mengubah peristiwa eksternal yang terjadi).

Ketujuh, saat emosi negatif (mau mengamuk, sedih, baper, cemburu, frustasi, takut, putus asa, dan lain-lain) menerpa, selalu melakukan STAR (Stop-Think & Assess-Respond).

“STOP (berhenti). Begitu kita merasakan emosi negatif, secara sadar kita harus berhenti dulu. Jangan terus larut dalam perasaan tersebut. Anggap saja kita berteriak “time out” di dalam hati. Cara ini bisa dilatih di semua emosi negatif.” (hlm 104)

“THINK & ASSESS (dipikirkan dan dinilai). Sesudah menghentikan proses emosi sejenak, kita bisa aktif berpikir. Memaksakan diri untuk berpikir rasional saja sudah mampu mengalihkan kita dari kebablasan menuruti emosi. Kemudian, mulailah menilai (assess), apakah perasaan saya ini bisa dibenarkan atau tidak? Apakah kita telah memisahkan fakta objektif dari interpretasi/value judgment kita sendiri?” (hlm 104)

Sebagai contoh saat kita terkena macet. Kita harus segera menyadari bahwa macet merupakan suatu peristiwa di luar kendali kita, lantas kenapa gusar? Toh ngamuk-ngamuk tidak bisa mengubah situasi.

“RESPOND. Sesudah kita menggunakan nalar, berupaya untuk rasional dalam mengamati situasi, dan semoga saat ini, emosi sudah sedikit turun, barulah kita memikirkan respon apa yang akan kita berikan. Respon bisa dalam bentuk ucapan atau tindakan.” (hlm 105)

Kedelapan, premeditatio malorum. Melatih diri membayangkan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita sehingga kita bisa lebih siap.

Kesembilan, hanya kita yang bisa mengizinkan orang lain menyakiti kita secara non-fisik (misalnya dengan hinaan, celaan, cemoohan). Tidak ada penghinaan yang benar-benar terjadi jika tidak ada yang merasa terhina.

Kesepuluh, latihan menderita (practice poverty) secara berkala. Dengan kata lain, memaksa kemungkinan buruk dalam kehidupan kita agar kita tahu rasanya berada dalam posisi kesusahan. Hal itu dapat dilakukan dengan cara berpuasa (melatih kelaparan), atau melakukan digital detox (latihan untuk hidup tanpa internet), dan sebagainya.

Kesebelas, menjadi orang tua. Tidak sedikit orang tua yang ngotot memaksakan kehendaknya karena telah berjasa melahirkan dan membesarkan anaknya. Padahal anak merupakan individu yang merdeka. Kembali ke prinsip dikotomi kendali. Ada sebagian hal tentang anak yang ada di dalam kendali orang tua, dan ada pula sebagian lagi yang tidak di dalam kendali orang tua.

“Tapi kan maksud kita baik?! Filsuf Stoa akan berkata bahwa poinnya bukanlah “maksud”-nya (intention), tetapi bahwa kita harus bersiap pada kekecewaan, kemarahan, air mata, dan rasa frustasi ketika kita memelihara ilusi bisa mengendalikan kehidupan anak yang tidak berada di bawah kendali kita. Trikotomi kendali dari William Irvine rasanya sangat relevan diterapkan.” (hlm 231)

Pada bagian ini, penulis juga memberikan tips cara mengenalkan dan mengajarkan anak mengenai dikotomi kendali dengan menarik. Anda penasaran? Sila Anda membaca bukunya sendiri agar lebih seru.

Pembahasan ini sebenarnya di luar dugaan saya. Awalnya saya kira buku ini hanya self-help seseorang yang mengalami kesulitan dalam penerimaan diri pada umunya. Dalam buku ini ternyata juga disediakan satu bab khusus yang membahas mengenai parenting yang menambah wawasan baru bagi saya.

Ajaran Filosofi Teras merupakan sesuatu hal yang baru bagi saya. Sebelum membaca buku ini, saya sama sekali belum mengetahui tentang filsafat Stoa. Terasa asing. Seperti yang saya sampaikan di awal, dunia filsafat terkesan berat bagi saya, oleh karenanya saya belum begitu tertarik mempelajarinya. Namun, meski buku ini belum dapat dijadikan referensi utama tentang Stoisisme, Henry Manampiring mampu mengenalkan dan menyajikan konsep dasar dari ajaran Stoisisme dengan baik.

Berkat gaya bercerita Henry yang enak dan mengalir, memudahkan pembaca menyerap ajaran Stoisisme. Stoisisme dibedah perbabnya dengan runtut dan gamblang. Di setiap akhir bab disediakan pula intisari yang membuat pembaca lebih mudah menangkap poin yang penting pada setiap bab yang diulas. Selain itu, ia juga menyertakan wawancara dengan praktisi dari berbagai bidang yang telah mempraktikkan Stoisisme, mulai dari seorang psikiater, psikolog pendidikan, editor, hingga pengusaha. Apa yang mereka utarakan semakin menunjang bahwa ajaran Stoisisme masih relevan diterapkan pada masa kini. Selain itu, juga menambah minat pembaca untuk mendalami Stoisisme.

Dari segi isi, ajaran Filosofi Teras ini sangat aplikatif karena masih relevan dengan problematika kehidupan sehari-hari, sepeti masalah macet, marah-marah di media sosial, nyinyirin selebriti, dan masalah yang dihadapi seseorang ketika menjadi orang tua. Filosofi Teras mampu menjawab beberapa pertanyaan seputar konflik dalam diri, cara menjalani laku hidup yang lebih baik, dan menuntun dalam mengatur sudut pandang kita terhadap prasangka orang lain. Saat membaca buku ini saya teringat kata-kata bijak dari Maya Angelou, “Jika kau tak menyukai sesuatu, ubahlah hal tersebut. Bila tak bisa mengubahnya, ubahlah sikapmu (sudut pandang).” Sebagaimana dikotomi kendali, mengubah opini dan persepsi diri sendiri jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengubah persepsi orang lain. Mungkin bukan orang lain atau keadaan yang salah tetapi prasangka kita yang salah maka kita harus mengubahnya agar hati lebih tenteram.

Istilah populer Don’t Judge A Book by Its Cover sepertinya layak di sandang oleh buku ini. Saat seseorang memutuskan untuk mengadopsi sebuah buku, biasanya first impression itu menentukan, mulai dari judul buku, cover, pemilihan fontlay out hingga sinopsis buku. Sebelum menikmati sajian isi buku, setidaknya beberapa hal itu menjadi pertimbangan seseorang berminat membacanya atau tidak. Menurut saya, dilihat dari judulnya buku ini kurang menarik. Kesan buku yang berat didapat karena adanya kata filsafat. Hal itu mungkin bisa saja membuat buku ini terlewatkan dari Generasi Milenial. Namun, saya salut dengan kerjasama penulis dan penerbit dalam mempromosikan buku ini dengan baik. Tidak sedikit para penyuka buku self-help yang sudah membaca buku ini. Terbukti dengan banyaknya ulasan di Goodreads dan sudah dicetaknya buku ini secara berulang-ulang pada tahun yang sama.

Kemudian untuk lay out dan pemilihan huruf yang kecil dan rapat menambah kesan jenuh. Apalagi ditambah rata kiri yang tidak lazim dalam sebuah bacaan sehingga tampak kurang rapi. Mungkin ini mengenai selera. Di sisi lain, menurut saya itu juga sebuah terobosan agar memberikan kesan yang berbeda. Dalam buku ini juga disertakan ilustrasi yang apik dari Levina Lesmana. Membuat mata pembacatetap fresh ketika mendalami Stoisisme.

Dari segi isi, beberapa bahasan dan contoh terasa diulang-ulang dan panjang. Membuat beberapa bagian jadi membosankan. Saya merasa buku ini dapat lebih diringkas menjadi dua pertiganya. Akan tetapi, barang kali metode ini memang disengaja oleh penulis agar Filosofi Teras dapat berhasil diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh Generasi Milenial.

Terlepas dari kekurangannya, jika sudah mulai membaca isi buku ini maka Anda akan dibuat tidak ingin beranjak sebelum sampai halaman 320. Alih-alih sebagai buku filsafat yang berat, buku ini lebih mengarah pada wejangan laku hidup. Tidak heran jika buku ini dinobatkan sebagai Best Seller Nasional 2019 dan mendapatkan penghargaan dari Kemendikbud sebagai “Influencer Award The Future Is Here”. Kembali lagi ke Filosofi Teras, semua tergantung interpretasi. Awalnya akan terlewatkan tetapi setelah membacanya menjadi sayang jika tidak bertemu dengan buku ini.

Pada akhirnya, buku Filosofi Teras merupakan buku yang sangat ciamik dan layak untuk direkomendasikan terutama bagi generasi masa kini yang saat ini lebih terobsesi untuk memiliki feed Instagram yang sempurna dan berlomba-lomba menambah followers. Dengan membaca buku ini, diharapkan kita dapat lebih bijak dan cerdas dalam bersosial media. Selain itu, menjalani filosofi ini memang tidak mudah, dibutuhkan latihan mengendalikan emosi negatif, serta berusaha untuk cuek dan bodo amat tehadap sesuatu yang berada di luar kendali kita. Maka percayalah, stres terhempas, damai pun datang. Selamat Membaca! Selamat berbahagia ala Filosofi Teras!

"<iframe src="https://drive.google.com/file/d/1zaqLAMvaEY4AtYeHFk6YkO8Uw7XOWJUC/preview" width="640" height="480" allow="autoplay"></iframe>"

Dowolad Disini

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?

Share:


KATEGORI


POST POPULER

Pantarlih

by: Administrator | 27 February 2023

Data SISWA SMK N 1 SITIUNG

by: Administrator | 04 September 2021

BELAJAR PEMROGRAMAN PHP DENGAN MUDAH

by: Administrator | 30 April 2021

Cara Mebuat Jam Analog di macromedia flash 8

by: Administrator | 06 October 2021

Macromedia Flash 8

by: Administrator | 06 October 2021

membuat jam digital

by: Administrator | 07 October 2021

Nilai UAS Design Media Interaktif

by: Administrator | 15 December 2021

Web personal untuk berkarya

by: Administrator | 31 August 2022

POST TERBARU

sering dengar ontologi gak sih

by: Ruzi Rinaldi | 16 August 2026

Uji Organoleptik

by: Ruzi Rinaldi | 16 August 2026

Regulasi & Juknis/Pedoman BGN Sebelum SK 401.1

by: Ruzi Rinaldi | 14 August 2026

Ibnu Rusyd Tahafut at Tahafut

by: Ruzi Rinaldi | 19 July 2026

gudang baca

by: Ruzi Rinaldi | 19 July 2026

Pes 2017

by: Ruzi Rinaldi | 15 July 2026

Harapan

by: Ruzi Rinaldi | 04 June 2026

Dampak chat GPT dalam berpikir

by: Ruzi Rinaldi | 08 May 2026