Suatu ketika Malaikat Jibril datang mendekat pada Nabi, memegang lutut beliau lalu bertanya,
"Apakah iman?"
Dijawab, "Iman itu percaya kepada Allah, percaya kepada Rasul, percaya pada Hari Kemudian, percaya pada Malaikat,
percaya pada kitab-kitab suci. Itu iman."
Sedangkan Islam, Islam itu adalah melaksanakan rukun Islam yang lima itu.
Ihsan itu adalah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya,
dan kalau kamu tidak dapat melihat-Nya maka yakinlah bahwa Allah di dekatmu.
jika ingin lebih merinci lagi.
Iman itu pembenaran hati, bukan pembenaran akal, karena sekian banyak hal-hal yang tidak terjangkau oleh nalar manusia. Mari kita ambil contoh: bagaimana Hari Kemudian itu?
Di sini, jika yang menyampaikannya itu orang yang kita kenal, jujur, berpengetahuan, dan sebagainya, maka kita membenarkannya ketika itu dia dinamai iman.
Iman itu bisa digambarkan...
Ada hal dikatakan, "Anda harus percaya bukan karena Anda tahu tetapi karena Anda tidak tahu".
Jadi dalam ajaran agama ada wilayah-wilayah ajarannya yang kita tidak bisa menalarkannya. Itu iman.
Kalau Islam itu pelaksanaan. Jadi, iman itu selalu disertai dengan tanda tanya.
Iman itu diibaratkan seperti seorang yang sedang mendayung di tengah ombak dan gelombang.
Nan jauh di sana dia lihat pulau, dia mendayung ke sana,
selalu ada tanda tanya dalam hatinya, "Apakah saya bisa sampai di sana atau tidak?" Itu iman.
Tapi ketika dia sampai di sana, sudah bukan iman karena dia sudah tahu.
Jadi di atas iman itu ada yang dinamai yakin.
Nah kita dituntut iman, tidak harus yakin. Iman; kita percaya bahwa Tuhan Maha Esa,
kita percaya bahwa Tuhan maha mengetahui dan sebagainya.
Bagaimana itu tidak terjangkau oleh nalar kita? Itu iman.
Kalau ihsan, pelaksanaan tuntunan-tuntunan agama itu dilakukan sesempurna mungkin, sehingga itu dilukiskan seperti seorang yang diawasi oleh majikannya. Ketika dia melakukan sesuatu, pasti dia akan melakukannya sebaik mungkin. Nah itu ihsan.