Belajar dari Tiga Panci Air yuk

Posted by: Ruzi Rinaldi | 03/05/2026 | Kategori: Tulisan Inspirasi | 31 kali dibaca | Rating: 11

Kita mudah kehilangan harapan ketika segala sesuatu tam-pak tidak berjalan sebagaimana mestinya. Terkadang, apa pun yang kita lakukan tidak memberi hasil seperti yang diharapkan. Perumpamaan berikut menyajikan cara lain untuk melihat hi-dup kita.

 

Seorang perempuan muda mendatangi ibunya, menceri-takan tentang hidupnya dan betapa kerasnya kehidupan yang ia hadapi. la tidak tahu cara mengatasinya dan ia hampir me-nyerah. la sudah lelah berjuang. Tampaknya setiap kali sebuah masalah teratasi, masalah baru pun muncul.

 

Sang ibu membawanya ke dapur. Ibunya mengisi tiga panci dengan air dan meletakkan masing-masing panci di atas tung-ku api. Tak lama kemudian air dalam ketiga panci itu mendidih. la memasukkan wortel ke dalam panci pertama, telur ke dalam panci kedua, dan kopi bubuk ke dalam panci terakhir. la mem-biarkannya mendidih tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

Setelah sekitar dua puluh menit ia mematikan apinya. la mengeluarkan wortel pada panci pertama dan memasukkan-nya ke dalam mangkuk. Lalu ia menuangkan kopi ke dalam mangkuk tadi. Kemudian ia menengok ke arah putrinya dan bertanya, "Katakan, apa yang kamu lihat?"

 

"Wortel, telur, dan kopi," jawabnya. Ibunya menariknya un-tuk mendekat dan menyuruhnya untuk menyentuh wortelnya. Sang putri pun melakukannya dan merasakan lunaknya wortel.

 

Lalu sang ibu memintanya untuk mengambil sebutir telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulit telur, ia mengamati bahwa telur yang telah direbus itu berubah keras (baca: padat). Akhirnya sang ibu meminta putrinya untuk menyeruput kopi-nya. Sang putri tersenyum saat mencicipi aroma kopi. la lalu bertanya, "Apa artinya, Bu?"

 

Sang ibu pun menjelaskan bahwa ketiga objek tersebut menghadapi kesulitan yang sama... air mendidih. Masing-masing objek memberi reaksi berbeda. Wortel mula-mula kuat, keras, dan gigih. Akan tetapi, setelah dimasukkan ke dalam air mendidih, wortel menjadi lunak dan lemah. Telur mula-mula rapuh. Kulit luarnya yang tipis melindungi isinya yang cair, tapi setelah berada dalam air mendidih isi telur pun mengeras (menjadi padat). Lain lagi dengan kopi bubuk yang terbilang unik. Setelah dimasukkan ke dalam air mendidih, kopi mengu-bah warna airnya.

 

"Kamu yang mana?" tanya sang ibu pada putrinya. "Ketika kesulitan menghadangmu, apa responsmu? Apakah kamu wor-tel, telur, atau biji kopi?"

 

Pikirkanlah: saya yang mana? Apakah saya wortel yang tampak kuat, tapi setelah mengalami rasa sakit dan kesulit-an ternyata layu dan menjadi lunak serta kehilangan tenaga? Apakah saya telur yang mula-mula lunak, tapi berubah sete-lah dipanasi? Apakah saya awalnya memiliki jiwa yang luwes, tapi setelah orang yang saya cintai meninggal, atau berakhir-nya sebuah hubungan, dan merosotnya kondisi keuangan saya, saya menjadi seorang yang keras dan kaku? Apakah kulit saya tampak sama tapi di dalam terasa getir dan keras dengan jiwa yang kaku serta hati yang mengeras? Atau, apakah saya se-perti biji kopi? Biji kopi justru mengubah air panas, keadaan yang menyebabkan rasa sakit. Ketika air menjadi panas, biji

 

kopi mengeluarkan aroma dan rasa khasnya. Bila kita seper-ti biji kopi, saat keadaan memburuk, kita menjadi lebih baik dan mengubah situasi di sekeliling kita. Ketika kita mengalami masa tersuram dan cobaan terbesar sekalipun, apakah kita mengangkat diri kita ke level lebih tinggi? Bagaimana cara Anda menangani kesulitan? Apakah kita wortel, telur atau biji kopi?

 

Orang-orang yang paling bahagia belum tentu memiliki se-gala hal terbaik; mereka memanfaatkan dengan sebaik-baik-nya apa yang mereka miliki. Masa depan paling cerah selalu didasarkan pada masa lalu yang terlupakan; kita tidak bisa me-langkah maju dalam hidup sebelum kita melupakan kegagalan dan kepedihan di masa dahulu.

 

Jalankan hidup sesuai pepatah tua: "Ketika kita lahir, kita menangis dan semua orang di sekeliling kita tersenyum. Kita harus menjalankan hidup kita sedemikian, sehingga pada akhir hidup, kitalah yang tersenyum sementara semua orang di se-keliling kita menangis."

Seandainya saja orang-orang yang mencemaskan utang mereka memikirkan kekayaan yang mereka miliki, mereka akan berhenti merasa cemas.

 

-Dale Carnegie

Share:


KATEGORI


POST POPULER

Pantarlih

by: Administrator | 27 February 2023

Data SISWA SMK N 1 SITIUNG

by: Administrator | 04 September 2021

Cara Mebuat Jam Analog di macromedia flash 8

by: Administrator | 06 October 2021

BELAJAR PEMROGRAMAN PHP DENGAN MUDAH

by: Administrator | 30 April 2021

Macromedia Flash 8

by: Administrator | 06 October 2021

membuat jam digital

by: Administrator | 07 October 2021

Nilai UAS Design Media Interaktif

by: Administrator | 15 December 2021

Web personal untuk berkarya

by: Administrator | 31 August 2022

POST TERBARU

Harapan

by: Ruzi Rinaldi | 04 June 2026

Dampak chat GPT dalam berpikir

by: Ruzi Rinaldi | 08 May 2026

Belajar dari Tiga Panci Air yuk

by: Ruzi Rinaldi | 03 May 2026

mengenal ontologi

by: Ruzi Rinaldi | 25 March 2026

pikiran berisik obatnya

by: Administrator | 04 March 2026

iman islam dan ihsan

by: Administrator | 26 February 2026