Setiap peringatan hari guru, saya selalu teringat kisah heroik KH Ahmad Dahlan. Muhammadiyah pernah kehabisan dana untuk menggaji para guru.
Di suatu siang, KH Ahmad Dahlan memukul kentongan. Sangat keras dan nyaring hingga semua tetangga mendengar. Kemudian mereka berduyun-duyun datang ke rumah KH Ahmad Dahlan.
Dengan penuh rasa penasaran, mereka keluar rumah, saling memandang dan bertanya-tanya. Semua berlari menuju satu titik: rumah KH Ahmad Dahlan.
Setiba disana, mereka terbengong karena hampir semua perabot rumah KH Ahmad Dahlan ada di halaman.
Setelah ramai orang berkumpul. KH Ahmad Dahlan memulai pembicaraan.
"Saudaraku sekalian, sudah berbilang bulan gaji guru belum dibayar. Kas Muhammadiyah kosong. Maka dari itu saya lelang perabotan saya untuk menggaji guru Muhammadiyah."
"Silakan pilih mana yang anda suka. Bayarlah seikhlasnya. Nanti murid saya akan mencatat dan mengantarkannya ke rumah saudara sekalian."
Satu persatu hadirin memilih barang yang disukainya. Lemari, kasur, meja kursi hingga hiasan rumah habis terjual. Lelang selesai. Ribuan gulden berhasil dikumpulkan.
Tapi anehnya, hadirin langsung pulang dan semua perabotan ditinggalkan.
"Saudaraku semua, sebentar, jangan pulang dulu." Cegah KH Ahmad Dahlan.
"Terimakasih sudah membeli perabotan saya. Insya Allah kas Muhammadiyah sudah terisi. Silakan barangnya dibawa pulang, atau nanti biar diantarkan."
"Tidak usah kyai. Barangnya untuk kyai saja. Kami ikhlas."
Jawab hadirin.
"Tapi yang dibutuhkan hanya 500 gulden. Sementara ini ada 4000 gulden. Sisanya bagaimana?" Tanya Kyai.
"Ya untuk Muhammadiyah!" jawab hadirin serempak.
Kisah heroik itu menjadi awal filantropi Muhammadiyah. Namun ironisnya, sudah seabad berlalu, gaji sebagian guru Muhammadiyah masih saja dibawah standar.
Muhammadiyah tidak boleh hanya berbangga dengan amal usaha yang jumlahnya puluhan ribu. Tapi mirisnya masih ada gurunya yang bergaji tiga ratus ribu.
Slogan Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah bukan alibi untuk melanggengkan praktek ini.
Slogan ini lebih tepat bagi para pimpinan, kader dan aghniya untuk menggerakkan dakwah persyarikatan. Semoga utas singkat ini menjadi pemacu kita semua untuk lebih bersemangat menggerakkan persyarikatan.
"Jadilah dokter, insinyur, meester, menjadi apapun lalu kembali (berinfaq dan menghidupi gerakan) Muhammadiyah."
Kalau Muhammadiyah dipandang kurang baik, janganlah hanya dicela. Dan kalau dipandang baik janganlah hanya dipuji. Tetapi bantulah dan suburkanlah Muhammadiyah - Aisyiyah.
#HariGuru